Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner Dorong Peningkatan Daya Saing Produk Sarang Burung Walet

Penulis : Drh. Septa Walyani, MS.i

Sarang burung walet yang dihasilkan oleh jenis burung Collocalia fuchiphaga (sarang putih) memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Sarang walet sejak Dinasti Tang (618-907 M) dan Dinasti Sung (960-1279 M) di Cina telah digunakan sebagai obat tradisional yang terkenal. Kandungan nutrisi dalam sarang walet dipercaya dapat meningkatkan fungsi otak pada bayi dan dapat meningkatkan kinerja sistem imun tubuh. Sarang walet juga dijadikan sebagai simbol kekuasaan, kewibawaan dan kekayaan (Nuroini dan wijayanti 2017). Tradisi ini masih terus berlangsung hingga saat ini, sehingga etnis Cina merupakan konsumen terbesar sarang burung walet.

Habitat alami burung walet adalah gua-gua kapur, karena nilai ekonomi sarang burung walet yang tinggi sejak tahun 1880 Collocalia fuchiphaga mulai ditangkarkan dalam rumah-rumah walet (Elfita L 2014). Faktor lingkungan tropis yang mendukung membuat Indonesia menjadi produsen terbesar sarang walet di dunia yang mengambil sekitar 79,55 % dari produksi sarang walet dunia.

Produksi sarang burung walet sangat dipengaruhi oleh faktor kondisi lingkungan. Temperatur, kelembaban dan intensitas cahaya rumah walet, ketinggian wilayah, suhu dan kelembaban udara, serta sumber air dan vegetasi sebagai penyedia pakan di lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan budidaya burung walet (Ayuti et al 2016).

Potensi Sarang Burung Walet

Kementerian Pertanian mencanangkan gerakan peningkatan produksi dan ekspor tiga kali lipat (Gratieks) untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi pertanian nasional. Sarang burung walet merupakan salah satu komoditi ekspor andalan Indonesia. Indonesia memiliki potensi sarang walet yang besar, terdapat 18 provinsi dengan potensi lebih dari 800 unit rumah walet per provinsi. Menurut data BPS data ekspor sarang burung walet Indonesia tahun 2018 sebanyak 1.291,9 ton dengan nilai USD 291.233.100 atau serata 4,077 triliun. Indonesia telah mengekspor 1.128,3 Ton sarang walet atau setara 4.472 Triliun dalam rentang waktu Januari sampai dengan November tahun 2019 (Ditjen PKH 2019) dengan negara tujuan: China, Hongkong, Vietnam, Singapura, USA, Canada, Thailand, Australia, Malaysia, Jepang, Laos, Korea.

Market share negara tujuan ekspor sarang burung walet terbesar tahun 2019 adalah Hongkong sebesar 48%, Vietnam 28%, China 10%, Singapura 6%, USA 4% dan Canada 2%, dan 4% ke berbagai negara lainnya. Proyeksi ke depan melalui Gratieks, Kementerian Pertanian Indonesia menargetkan peningkatan ekspor sarang burung walet sebesar 30% pada tahun 2020 menjadi 1.466 ton dan 2.200 Ton tahun 2022.

 

Peran pemerintah dalam menjamin keamanan pangan dan peningkatan daya saing produk melalui NKV

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) berperan aktif mendukung Gratieks. Ditjen PKH mengakomodir pemenuhan persyaratan ekspor untuk unit usaha sarang burung walet dalam bentuk penjaminan keamanan produk sarang walet berupa Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 Jo. UU Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Dengan berlakunya Permentan Nomor 11 Tahun 2020 tentang Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner Unit Usaha Produk Hewan dan dalam rangka penjaminan keamanan produk sarang walet, unit usaha rumah walet, pengumpul sarang walet, pencucian sarang walet dan pengolahan sarang walet wajib ber NKV.

Dalam upaya mendukung ekspor, selama masa pandemi Covid 19 proses sertifikasi NKV dan verifikasi unit usaha ekspor sarang walet tetap berjalan.  Audit NKV dan proses verifikasi dilakukan dengan mekanisme daring dan luring dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Sejak tahun 2005 hingga bulan Juni 2020 tercatat sebanyak 2707 unit usaha telah memiliki NKV, dan 66 diantaranya adalah unit usaha sarang burung walet.  Bagi unit usaha sarang burung walet sertifikat NKV dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk sarang burung walet baik di dalam maupun luar negeri.  Masyarakat dapat dengan mudah mengetahui produk sarang walet dari unit usaha yang sudah ber-NKV dengan melihat adanya logo NKV pada kemasan produk sarang burung walet.

Tantangan ekspor sarang burung walet

Jumlah sarang walet yang dihasilkan sangat bergantung pada kondisi alam, sehingga faktor kelestarian lingkungan sangat berpengaruh penting dalam budidaya walet.  Ekspor sarang walet yang belum dicuci atau diolah membuat Indonesia kehilangan nilai tambah ekonomi karena selisih harga yang besar.  Ekspor sarang burung walet akan lebih menguntungkan jika sarang burung  walet yang diekspor sudah mengalami proses pencucian atau pegolahan.

Daftar pustaka :

Ayuti T, Garnida D, Asmara IY, 2016. Swiftlet (Collocalia fuciphaga) Nest Production and Habitat

Identification At East Lampung District. J Student e Journal, Vol 5, No 4

Ditjen PKH. 2019. Strategi Gratieksnak; Gerakan tiga kali lipat ekspor peternakan sarang burung walet.

Kementan, RI. 2020. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 11 Tahun 2020 tentang Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner Unit Usaha Produk Hewan. Jakarta : Kementerian Pertanian RI.

Lina Elfita. 2014.  ”Analisis Profil Protein Burung walet ( Collocalia fuchipaga )Asal Painan, J Valensi Vol. 4 No. 1:

61-69

Nuroini, Wijayanti. 2017. Uji Efek Antiinflamasi Sarang Burung Walet (Collocalia fuciphaga Thunberg) terhadap

Gambaran Histologis Telapak Kaki Mencit (Mus musculus Linneaus) J labmed Vol 1 No 1: 21-26

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *